Senin, 18 Februari 2019

Bahaya Begadang Bagi Kecantikan Wajah dan Cara Mengatasinya







Tidur
Tidur adalah sebuah hal yang penting dalam menjaga kesehatan tubuh setelah beraktivitas seharian. Tidur sebenarnya bukan hanya istirahat untuk fisik, tapi juga istirahat untuk mental dan fikiran. Dengan demikian Istirahat yang cukup akan sangat berpengaruh bagi kesehatan tubuh.
Selain sebagai kesempatan untuk beristirahat, tidur juga membantu meningkatkan daya tahan tubuh, memperbaiki jaringan tubuh dan menjaga kesehatan kulit wajah. Untuk itu idealnya kita harus tidur minimal 6-8 jam dalam sehari sebab kurang tidur berisiko mengganggu kesehatan (Wirawan, 2017).

Kurang Tidur?
Insomnia adalah suatu istilah untuk keadaan seseorang yang mengalami susah tidur atau tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kebiasaan susah tidur biasa disebut dengan begadang. Insomnia biasanya disebabkan oleh beberapa factor seperti karena hormone, obat obatan, kejiwaan atau karena kebiasaan. Insomnia dapat memangkas kesempatan bagi kulit wajah untuk beregenerasi dan beristirahat. Sehingga beresiko menurunkan kesehatan kulit wajah.

Apa bahaya insomnia bagi kecantikan wajah?
Berdasarkan penelitian Syamsoedin et al (2015), dari 62 orang responden yang mengalami insomnia, memperlihatkan tanda dan gejala berkurangnya kesehatan wajah,yaitu : 

1.       Timbulnya kantung mata

2.       Bayangan gelap dibawah mata
3.       Kulit kusam
4.       Jerawat
5.       Penuaan dini
6.       Kulit kendur
 
Bagaimana cara mengatasi insomnia?
                Ada beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengurangi gangguan insomnia yaitu :
1.       Berolahraga teratur
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa olahraga teratur dapat mengatasi masalah tidur. Olahraga sebaiknya dilakukan pada pagi hari bukan menjelang tidur. Dengan olahraga, kesehatan akan menjadi lebih optimal dan stress lebih baik (Syamsoedin et al, 2015).
2.       Hindari makan dan minum terlalu banyak menjelang tidur
Terlalu banyak makan dan minum akan memicu kita untuk buang air besar ataupun buang air kecil sehingga kenyamanan tidur akan terganggu (Pieter et al, 2011).
3.       Tidurlah dilingkungan yang nyaman
Matikan lampu atau gunakan lampu yang redup dan matikan benda benda bersuara yang dapat mengganggu tidur (Pieter et al, 2011).
4.       Hindari asupan yang bersifat membuat kita terjaga
Adapun asupan yang dimaksud adalah seperti kopi dan teh yang mana keduanya mengandung senyawa kafein yang dapat menghambat kerja reseptor adenosine. Adenosin adalah sebuah senyawa dalam tubuh yang membuat kita mengantuk. Dengan demikian bila kerja adenosine dihambat maka kita akan terhindari dari rasa kantuk (Matizih,2004).
5.       Berhentilah memainkan ponsel atau gadget lainnya sebelum tidur
Hasil penelitian MIT School of Management menunjukkan bahwa semakin tinggi waktu penggunaan media sosial melalui computer, laptop, tablet, dan ponsel cenderung semakin mengganggu pengaturan hormone alami manusia untuk tidur yang disebut hormone melatonin sehingga menyebabkan semakin tingginya kejadian insomnia (Sarwono,2012)

DAFTAR PUSTAKA
Matizih. 2004. Insomnia dan Gangguan Tidur Lainnya. Jakarta : Gramedia.

Pieter,Z.H., Janiwarti,B dan saragih,M. 2011. Pengantar Psikopatologi Untuk Keperawatan.    Jakarta : Kencana.

Sarwono, S.W. 2012. Psikologi Remaja. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Syamsoedin, P.K.W., Bidjuni, H dan Wowling, F. 2015. Hubungan Durasi Penggunaan Media Sosial dengan Kejadian Insomnia Pada Remaja di SMA Negeri 9 Manado. Jurnal keperawatan. Vol : 3 (1).

Wirawan, C.M. 2017. Berbagi Tips Hidup Sehat dengan Cara Sederhana. Jakarta : Noura e-lite.





Sabtu, 01 Desember 2018

RAPID

RAPID

       Seiring dengan berkembangnya teknologi hampir diseluruh dunia, masyarakatpun semakin mudah mengembangkan ilmu pengetahuan. Bioinformatika adalah disiplin ilmu yang menerapkan teknik komputasi untuk memecahkan masalah keilmuan seperti kimia, farmasi, biologi , kedokteran dan lain lain. Salah satu pemanfaatan teknologi adalah pengaplikasian desain kandidat molekul obat (drug design) dengan metode RAPID (Randomized Pharmacophore Identification for drug Design) (Syahputra, 2015).

FARMAKOFOR

Farmakofor menurut IUPAC adalah faktor sterik dan elektronik yang diperlukan untuk memastikan terjadinya interaksi molekuler optimal dengan struktur target biologis spesifik sebagai penginduksi atau penghambat respon biologis (Mannhold, et al. 2006).

Fitur farmakofor dibuat dengan mempertimbangkan model PLIF (Protein Ligand Interaction Features).Sidik jari interaksi protein dengan ligan dibuat dengan menggunakan 4 struktur protein yang diunduh dari situs RSCB PDB. Seluruh struktur kemudian dibuka pada Jendela MOE dan disejajarkan sehingga rantai yang memiliki struktur yang sama yang akan bergerak bersama-sama sebagai satu unit. Dengan cara ini kompleks protein-ligan dapat disejajarkan. File kemudian disimpan sebagai database dan dilakukan analisis PLIF.

TUJUAN FARMAKOFOR

untuk menjelaskan struktur 3D kandidat obat menggunakan senyawa turunannya yang penting untuk pengikatan dengan reseptor dengan menghasilkan farmakofor dan untuk mengukur fitur yang penting untuk aktivitas biologis dengan melihat residu asam amino yang berperan pada pengikatan. Untuk penyusunan farmakofor menggunakan Pharmacophore Query Editor dan Protein-Ligand Interaction Fingerprint pada Program MOE. Farmakofor hipotetik yang dihasilkan juga akan menjelaskan pengikatan ligan dalam situs pengikatan atau katalitik dari reseptor.


Fitur farmakofor ditentukan melalui tiga tahapan yaitu :  

1. membuat database konformasi dengan menggunakan satu set senyawa yang telah dioptimasi.
2. membuatQuery pharmacophore dengan memilih titik anotasi berdasarkan pengikatan ligan protein yang hasil analisis PLIF, 
3.  kemudian penyempurnaan struktur Query yang dapat hit dengan konformasi senyawa senyawa aktif.

Pola query farmakofor dibuat secara komputasi dari model struktur tiga-dimensi (3D) molekul penuntun yaitu senyawa 43. Pola ini didasarkan pada model fisik dan mekanisme pengikatan, sehingga sensitif terhadap perubahan konformasi. Hasil yang lebih baik dapat diperoleh bila didukung oleh data kristal atau NMR structural (Xu and Hagler, 2002).

PEPTIDA



PEPTIDA
Peptida dan protein keduanya merupakan poliamida yang terdiri atas asam -amino yangα
dihubungkan melalui gugus karboksil dan -amino.





Dalam biokimia, ikatan amida disebut juga sebagai ikatan peptida. Resultan polimer yang telah
diklasifikasikan sebagai peptida atau protein tidaklah tergambar dengan jelas, umumnya
panjang rantai yang lebih dari 40 menggambarkan keberadaan protein, sedangkan istilah
polipeptida dapat digunakan untuk menyebut semua rantai panjang tersebut. Meskipun terlihat
serupa, peptida dan protein menampilkan berbagai macam fungsi biologis dan banyak fungsi
fisiologis. Sebagai contoh, mereka berfungsi sebagai struktur molekul dalam jaringan, enzim,
antibodi, sebagai neurotransmitter, dan bertindak sebagai hormon yang dapat mengontrol
banyak proses fisiologis, mulai dari sekresi asam lambung dan metabolisme karbohidrat
pertumbuhan itu sendiri. Aktivitas berbeda timbul akibat konsekuensi dari urutan asam amino
dalam peptida atau protein (struktur primer), struktur tiga dimensi dari suatu molekul yang
kemudian menjadi hasil dari urutan atau rangkaian ini (struktur sekunder dan struktur tersier),
dan sifat khusus dari individu rantai samping yang terdapat pada suatu molekul. Banyak
struktur yang telah mengalami modifikasi pada poliamida dasarnya, dan modifikasi tersebut
dapat menyebabkan perubahan aktivitas biologisnya secara signifikan

Kegunaan Peptida :
1.       Antibakteri
2.       Antibiotic
3.       Pembuatan gelatin
4.       Antikerut
5.       Obat demam berdarah
6.       Insulin

MASALAH:
1.peptida apakah yang berperan dalam aktivitas antibakteri
2. bagaimanakah pemanfaatan gelatin dan darimana bisa didapatkan gelatin?